Tak
disangka-sangka Motivator ulung pembawa acara Golden Ways di Metro TV ternyata seorang muslim sejati. Mungkin selama ini kita
menyangka beliau adalah seorang yang beragama nasrani atau budha bahkan banyak
yang menyangka sebagai seorang pendeta, karena dalam setiap acaranya Mario
Teguh selalu mengunakan kata “Tuhan” untuk menggantikan kalimat “Allah”.
Fakta
Mario teguh seorang muslim atau beragama islam terungkap
tatkala Metro TV menyiarkan acara Mario Teguh pada Minggu 19 Juli 2009 yang
topiknya seputar ibadah Umrah yang
dipandunya. Terlihat Mario teguh sedang berada di Madinah sambil mengenakan
pakaian berhaji dan bertasbeh.
pakaian berhaji dan bertasbeh.
Jati diri Mario Teguh sebagai
seorang muslim juga diperkuat dengan wawancara yang dimuat di situs sufinews.com
Berikut
artikel yang sudah dilansirkan oleh sufinews.com tentang keislaman Mario Teguh.
Formula
yang anda tawarkan seperti Emotional Question (EQ) nya Daniel Goldman, begitu?
Kira-kira begitulah. Tapi saya
mengistilahkannya dengan Emotional Intelegents atau Kecerdasan Emosi.
Jabarannya
seperti apa?
Banyak
cara yang ditawarkan orang dalam melatih responcibility seorang klien. Ada
orang yang dilatih untuk berespon agresif terhadap stimuli. Ada juga yang
berlatih merespon dengan cara melarikan diri. Ada pula yang menggunakan
pendekatan bersembunyi atau mencari pembenaran diri pada apapun. Pada
pendekatan yang terakhir ini apapun dibenarkan sebagai dukungan terhadap
kebenaran diri karena mendapat serangan dari lingkungan. Nah paradigma ini yang biasanya dibangun dalam
budaya. Sehingga muncul budaya kalau tidak setuju diam saja, nanti kalau sudah
keterlaluan baru kita bereaksi. Nah ini mengakibatkan sekelompok orang untuk
diam selama tidak setuju dan kalau sudah tidak tahan baru bereaksi dengan reaksi
yang lebih agresif dan anarkis.
Kecerdasan emosi itu bukan
semata kemampuan seseorang mengendalikan emosi pada tempat dan waktu tertentu.
Dalam Kecerdasan Emosi seseorang dibekali semacam peta baku yang menjadi
“rujukan” untuk respons terhadap spekuli, atau respons terhadap hubungan.
Seorang anak yang sudah memiliki Peta Kecerdasan Emosi tidak akan berespons
negatif ketika dihina sebab dalam dirinya sudah ada peta bahwa hanya orang yang
rendah saja yang marah ketika direndahkan orang lain. Seseorang yang sudah
memiliki Peta Kecerdasan Emosi tidak akan berespons negatif ketika dikatakan
bodoh oleh pihak lainnya sebab dalam Peta Emosi yang dimilikinya ada petunjuk
bahwa hanya orang bodoh saja yang mengatakan orang lain bodoh. Kalau secara
kolektif bangsa ini di isi oleh individu-individu yang bereaksi positif
terhadap apapun yang terjadi dilingkungan kita, yakinlah kehidupan berbegara
dan berbangsa ini akan lebih damai dan syahdu.
Jadi,
penyemangatan yang kita bicarakan adalah penyemangatan yang memiliki muara padapengertian-pengertian baik dan positif, bukan dari acara
hingar bingar seperti musik keras atau teriak-teriak atau loncat-loncat atau
melalui obat atau minuman yang membantu artificial
kita untuk merasa kelihatannya seperti bersemangat. Penyemangatan yang demikian
ini sesaat saja sifatnya.
Di
Jepang ada sebuah toko barang antik yang disediakan untuk para eksekutif yang
tengah dilanda amarah. Disitu, orang boleh memecah berbagai jenis keramik yang
ada dengan harapan setelah itu orang akan merasa lega karena amarahnya telah
ditumpahkan pada barang-barang yang dipecahnya. Anda menghindari pendekatan
macam ini?
Ya.
Seperti yang saya katakan barusan, pendekatan macam itu temporal saja sifat
nya. Dan ini bukan pemecahan. Marah hanya bisa diobati dengan memaafkan. Menahan amarah tanpa memaafkan hanya akan menambah penyakit saja.
Tapi dalam konsep tasawuf, memaafkan itu harus dilatih terus menerus seiring dengan tumbuhnya “kedewasaan ruhaniah” seseorang. Masih dalam konteks tasawuf, memaafkan itu hasil perjuangan dari pengendalian kekuatan ghadhab (amarah) yang berada diantara dua tekanan; pengecut dan pemberang. Bagaimana menurut Anda?
nya. Dan ini bukan pemecahan. Marah hanya bisa diobati dengan memaafkan. Menahan amarah tanpa memaafkan hanya akan menambah penyakit saja.
Tapi dalam konsep tasawuf, memaafkan itu harus dilatih terus menerus seiring dengan tumbuhnya “kedewasaan ruhaniah” seseorang. Masih dalam konteks tasawuf, memaafkan itu hasil perjuangan dari pengendalian kekuatan ghadhab (amarah) yang berada diantara dua tekanan; pengecut dan pemberang. Bagaimana menurut Anda?
Nah disinilah letak perbedaan
antara Ilmu Kejiwaan Barat dengan Ilmu Kejiwaan dalam agama.
Ilmu
Kejiwaan Barat tidak menyertakan komponen keyakinan yang murni sebagai
mekanisme manusia sebagai sebuah sistem, sedang Ilmu Kejiwaan dalam agama
menyertakan proses bahwa manusia itu bagian dari sebuah keberadaan yang lebih
besar, yakni Tuhan. Dan apa yang Anda
sampaikan itu adalah bagian dari Ilmu Kejiwaan dalam agama.
sampaikan itu adalah bagian dari Ilmu Kejiwaan dalam agama.
Apa
yang Anda katakan itu memang sudah seharusnya demikian bagi orang yang sudah
mengakui keberadaan Tuhan. Karena kalau kita sudah menerima Tuhan, semua waktu,
tempat, keadaan dan kesempatan dipersembahkan hanya untuk Tuhan. Alasan kita
tersenyum di pagi hari kepada isteri dan anak-anak, menyambut mereka dengan
santun, berusaha datang tepat waktu untuk memenuhi janji, itu semua bukan
semata-mata karena didasari atas kesantunan kita sebagai manusia, melainkan
kita ingin mengabdi kepada-Nya.
Kembali pada “memaafkan” yang Anda katakan, dia sebenarnya akibat dan bukan sifat.
Kembali pada “memaafkan” yang Anda katakan, dia sebenarnya akibat dan bukan sifat.
Memaafkan
adalah sebuah peralihan dari pusat ego kepada altruisme. Orang-orang altruis
dalam al-Quran disebut sebagai orang-orang yang berbuat baik (al-muhsinun;
red). Semakin jelas disini bahwa memaafkan tak bisa direkayasa secara
artificial dengan upacara pemutihan seperti acara halal bi halal misalnya.
Serupa dengan memaafkan, kesabaran pun demikian. Ia bukan sifat tapi akibat.
Ya, akibat dari karena ia mengerti resiko, mengerti reaksi yang tidak
proporsional. Orang yang penyabar dan pemaaf itu sebenarnya cermin dari
pengertian luas yang ia miliki. Karenanya kalau ada orang dilahirkan enggak
bisa marah, itu bukan
kesabaran tapi ketidaknormalan.
kesabaran tapi ketidaknormalan.
Saat
memberikan terapi atau memotivasi, diantara Ilmu Kejiwaan Barat dan Ilmu
Kejiwaan dalam agama, mana yang anda gunakan?
Kalau Anda perhatikan
penjelasan saya diatas, sebenarnya “peta” yang ada dalam Kecerdasan Emosional
yang saya tawarkan
mario
teguh
merupakan
gugusan pilar dari kebenaran, keindahan dan kebaikan. Hal ini didasari oleh
fitrah kehidupan bahwa manusia dalam hidup itu tak lepas dari menginginkan
kebaikan, menyukai keindahan dan mencari kebenaran. Tapi dalam realitas
kehidupan, tiga hal ini lebih sering dirasakan oleh manusia sebagai tiga hal
yang berdiri sendiri-sendiri. Misalnya kebenaran yang dicari ternyata malah
membawa kepedihan, keindahan yang disukainya ternyata tidak membawa kebaikan,
atau kebaikan yang diusahakan malah bertentangan dengan kebenaran. Pada saat
yang demikian manusia tidak dapat menikmati keadaan itu secara sempurna lalu
mengidap split
personality atau
kepribadian yang terpecah belah. Nah kira-kira melalui apa manusia dapat
menemukan dan merasakan kebenaran, keindahan dan kebaikan sejati (haqiqi; red)?
Dalam beragama bukan?!
Wah
penjelasan Anda nyufi banget loh ?!
Ha…ha…ha…terimakasih, Mas. Tapi
terus terang. Dalam menjalankan tugas (baik sebagai pembicara publik maupun
motivator) saya menghindari komponen-komponen komunikasi yang terlalu
mengindikasikan agama Islam secara formal atau verbal.
Kenapa
?
Buat saya, ketika kita
betul-betul dengan sadar sesadarnya mengatakan “ya!” terhadap keberadaan dan
keesaan Allah (laa ilaaha illallaah; red) kita tak perlu repot-repot lagi
memikirkan lebel-lebel formal ketuhanan. Pokoknya terus berlaku jujur, menjaga
kerahasiaan klien, menganjurkan yang baik, menghindarkan perilaku, sikap dan
pikiran buruk, saya rasa ini semua pilihan orang-orang beriman. Itu alasan
pertama.
Alasan kedua, Islam itu agama
rahmat untuk semesta alam loh. Berislam itu mbok yang keren abis gitu loh!
Maksudnya, jadi orang Islam mbok yang betul-betul memayungi (pemeluk)
agama-agama lain. Agama kita itu sebagai agama terakhir dan penyempurna bagi
agama-agama sebelumnya. Agama kita puncak kesempurnaan agama. Dan karenanya
kita harus tampil sebagai pembawa berita bagi semua. Kita tidak perlu
mengunggul-unggulkan agama kita yang memang sudah unggul dihadapan
saudara-saudara kita yang tidak seagama dengan kita.
Bagaimana Islam bisa dinilai
baik kalau kita selaku muslim lalu merendahkan agama (dan pemeluk) agama lain.
Apakah
dalam pandangan Anda semua agama itu sama ?
Ha…ha…ha…ya jelas tidak sama
toh, Mas. Tapi oleh Tuhan manusia diberi kebebasan memilih diantara
ketidaksamaan itu. Saya tidak akan mengatakan bahwa perbedaan itu rahmat, tapi
saya akan menunjukkan Windows Operating System yang dikeluarkan Microsoft.
Masih ada toh?
Mas orang yang masih
menggunakan Windows 95? Masih ada juga kan orang yang menggunakan Windows 98
atau Windows 2000? Dan Anda sendiri sekarang menggunakan Windows XP kan?.
Begitu juga dengan agama-agama Tuhan, Mas. Ada versi-versi yang sesuai untuk
zamannya, untuk kelengkapan fikiran di zaman itu dan disana ada jenis kemampuan
masing-masing orang dalam menyikapinya. Masak Anda mau memaksa orang lain untuk
memakai XP pada orang yang kemampuannya cuma sebatas memiliki Windows 95? Tidak
toh!? Alangkah indahnya kalau semua orang Islam ketika bicara dapat diterima
semua pemeluk agama lain.
Contohnya
seperti apa pembicaraan yang dapat diterima semua pemeluk agama ?
“Anda adalah direktur utama
dari perusahaan jasa milik Anda sendiri. Anda adalah CEO dari kehidupan Anda
sendiri. Anda sebenarnya, sepenuhnya bertanggungjawab atas bisnis kehidupan
Anda dan apapun yang akan terjadi pada diri Anda sendiri. Anda bertanggungjawab
atas semuanya antara lain, produksi, pemasaran, keuangan, RND dan lain
sebagainya diperusahaan kehidupan Anda. Demikian pula Anda sendirilah yang
menentukan berapa besar gaji Anda, berapa income Anda. Bila Anda tidak puas
dengan penghasilan yang Anda terima, Anda bisa melihat didekat cermin Anda dan
menegosiasikan pada bos Anda, yakni Anda sendiri yang ada didalam cermin,”
begitu kira-kira. Nah, menurut saya etos demikian tak dapat dibantah oleh semua
ajaran agama-agama yang ada didunia.
Anda
ingin mengatakan bahwa dibalik cermin tersebut ada impian masa depan dan
perencanaan strategis, begitu ?
Ya, tepat sekali. Salah satu
pengamatan penting yang dapat ditemukan pada suatu perusahaan atau individu adalah
perusahaan yang dapat mengetahui nilai utamanya dan dapat membuat perencanaan
ke depan serta mengetahui apa yang harus dikerjakan dalam mencapai misi dan
visi perusahaan.
Demikian pula dengan
“perusahaan” Anda. Anda harus memiliki “impian” masa mendatang serta membuat
perencanaan strategis yang harus dijalankan sesuai dengan proses yang
direncanakan, sehingga Anda bisa mengerjakan apa yang harus Anda kerjakan dan
bukan yang Anda senang kerjakan.
Jadi,
menurut anda apa asset paling utama untuk perusahaan dan indvidu ?
Asset yang paling utama bagi
suatu perusahaan dan individu adalah reputasi. Pemasaran adalah persaingan
antar persepsi yang ada dibenak pelanggan dan bukan persaingan antara produk
yang sebenarnya. Jadi, reputasi dan persepsi suatu perusahaan atau individu
adalah sesuatu yang amat penting dalam mencapai kesuksesan.
Jika
ditemukan kegagalan, dimana letak masalahnya?
Saya
melihat hanya sales people yang gagal, yang disebabkan karena mereka banyak
menghabiskan waktu untuk melakukan sesuatu yang kurang memberikan nilai-nilai
kunci pada perusahaan kehidupan mereka. Sebaliknya, bagi para sales people yang
sukses, umumnya mereka
fokus pada aktifitas yang banyak memberikan nilai-nilai tambah dalam perusahaan kehidupannya.
fokus pada aktifitas yang banyak memberikan nilai-nilai tambah dalam perusahaan kehidupannya.
Termasuk
memberi nilai tambah estetika untuk perusahaan yang bernama Republik Indonesia
karena kemerosotan perilaku bangsanya yang terjadi disana-sini?
Ha…ha…ha… Dalam sekali anda!
Tapi memang benar, pengalaman estetika itu memang menjadi soal yang mendesak
bagi masyarakat kita akhir belakangan ini. Sehingga mata pendidikan estetika
pun menjadi pendidikan yang layak diakselarasi. Estetika bukan sebatas
menyangkut kesenian semata, ini adalah peristiwa kebudayaan. Estetika itu
awalnya adalah ketakjuban manusia dihadapan alam. Lalu alam itu mengajarkan
bermacam-macam persoalan agar manusia meniru dan menduplikasinya. Sejak itulah
lahir peristiwa kesenian.
Didalam kesenian jiwa manusia
diperkenalkan kepada nilai-nilai yang lebih luhur. Dari keluhuran seni, manusia
tergerak untuk mencari pengalaman yang lebih tinggi dan bertemulah dengan
pengalaman reliji. Dari seni pindahlah mereka kepada agama. Dari sekedar
pengalaman estetik maka menginjaklah manusia kedalam pengalaman relejius.
Sama
seperti para ahli tasawuf saat membahas cahaya dari proses manusia bahwa hidup
adalah sebuah tamsil agung tentang perjalanan seorang manusia menembus lorong
dirinya sendiri, tanpa kawan, tanpa bekal, tanpa lentera…..?
Ha…ha…ha…. Anda lebih paham
soal itu. Kembali kepada pendidikan estetika tadi, itulah pendidikan yang
hasilnya akan kita nikmati dalam bentuk nilai kepatuhan publik kepada hukum,
tertib sosial, sikap mental masyarakat yang hidup dan menjunjung tinggi
kedaulatan umum. Dan bangsa ini akan menjadi bangsa yang peka terhadap alam dan
kemanusiaan.
Sekaligus
menjadi bangsa yang tampil lebih kuat dihadapan hasutan budaya pop dan tidak
mudah memuja sesuatu yang sejatinya biasa-biasa saja cuma karena ia di
populerkan oleh media massa ?
Ya. Hasil pendidikan itu
membuat bangsa ini mudah mengenali sesuatu yang sejatinya indah dan gerah
ketika melihat limbah.
Dengan
cara apakah pendidikan estetika ini harus dijalankan?
Oleh karena estetika itu lebih
luas dari hanya mengenali lukisan cantik, tidak mudah memang untuk
menyingkapnya. Tapi jika mau sederhana mulailah dari diri kita dan
masing-masing komponen bangsa untuk kemudian para pemimpin yang besar visi
estetik nya dan kesuksesan pun siap untuk dijelang.
Apa
arti sukses menurut anda ?
Perjalanan 50 tahun hidup yang
sudah saya jalani menyimpulkan bahwa sukses itu tidak selalu berarti mendapat
piala atau pujian, meski tak ada salahnya jika kita mendapatkan keduanya.
Hanya saja itu semua bukan
kriteria dari sukses itu sendiri. Karenanya tak jarang orang kemudian sulit
menemukan kesuksesan-kesuksesan yang pernah diraihnya.
Secara sederhana sukses adalah
bagaimana kita keluar dari comfort zone kita dan mencoba menjadi lebih baik
dari sebelumnya. Dengan definisi ini Anda akan melihat begitu banyak kesuksesan
yang bisa Anda lihat pada diri Anda. Kalau kemarin Anda baru bisa membantu satu
orang, hari ini Anda bisa membantu dua dan besok Anda bisa membantu lebih
banyak lagi, maka anda sukses. Dengan perasaan yang positif mengenai kesuksesan
yang pernah Anda raih, maka Anda akan merasa semakin sukses dan semakin percaya
diri dengan cita-cita, visi dan misi hidup Anda.
Saya sangat tidak setuju dengan
ungkapan, “Biarlah kita sekarang susah, asal nanti kita sukses”. Ini jelas
enggak pernah bakal sukses. Saya bertanya, dimana anak tangganya?
Bukankah
untuk meraih kesuksesan besar harus diawali dengan kesuksesan kecil dan
sedang?.
Ada pepatah yang mengatakan,
“Sukses akan melahirkan sukses yang lain.” Nah dari pepatah ini dapat diambil
pelajaran, apabila kita semakin mudah untuk melihat kesuksesan kita dari
hal-hal yang kecil, maka mudah bagi kita untuk mengumpulkan, mengakumulasikan
dan melangkah mencapai sukses yang lebih besar. Percaya dech, dengan sukses
kecil-kecil itu, cepat atau lambat sukses yang lebih besar akan menjemput Anda.
Tapi sayang, umumnya,
masyarakat kita menilai sukses seseorang dari ukuran-ukuran materi seperti
merek mobil yang digunakan, mewahnya rumah yang dimiliki dan lain sebagainya.
Bagaimana
komentar Anda ?
Ini jelas penilaian yang harus
diluruskan sebab akan ada akibatnya; jika tidak kaya atau bergelimang harta
maka seseorang tidak dikatakan sukses. Sehingga pada akhirnya berlomba-lomba
setiap orang untuk mencari kekayaan yang lepas dari cara yang halal atau yang
haram karena ia takut kalau dikatakan tidak sukses. Jika kekayaan itu sudah
diraihnya, pasti ia mudah terlena dengan kekayaan itu. Dengan angkuh, ia
mengklaim bahwa kekayaan yang ada padanya itu hasil jerih payahnya sendiri. Ia
lupa bahwa kekayaan sesungguhnya bukanlah sebab melainkan akibat dari sukses
yang diraihnya. Hemat saya, orang yang angkuh dengan apa yang dicapainya
sebenarnya dia tidak berencana untuk mencapai kesuksesan-kesuksesan yang lain.
Tandanya
apa sich seseorang yang terjebak pada keangkuhan atau kesombongan?
Konon tidak seorang pun bisa
masuk sorga kalau hatinya tinggi, arogansinya besar dan harga dirinya bengkak.
Orang-orang arogan tidak bisa masuk sorga. Kira-kira begitulah secara
spiritual. Tetapi didunia pekerjaan pun orang-orang yang kemudian masuk dalam
jebakan kesombongan dan arogansi ditandai dengan perasaan luar biasa hebat,
perasaan paling top, perasaan paling hebat, bahkan lupa sebenarnya dia sudah
merasa lebih besar dari pada sejatinya. Perusahaan-perusahaan dan orang-orang
demikian biasanya mulai mengalami proses penjatuhan atau proses penurunan.
Jadi,
sombong itu awal dari kejatuhan individual maupun kejatuhan perusahaan?
Ya, awal dari kejatuhan
individual atau kejatuhan perusahaan adalah ketika mereka lupa diri, arogansi
dan sombong. Itulah yang bisa diungkapkan dari sejarah bisnis. Pada banyak
produk-produk yang dulu terkenal, pemimpin besar, market leader, tapi kemudian
sekarang hilang dari peredaran. Kenapa? Jawabanya adalah ketika mereka terjebak
dalam kesombongan yang membuatnya rasa puas diri.
Dengan
kata lain, sebaliknya, jika kita ingin maju kita harus rendah hati?
Iya.
Rendah
hati yang anda maksud?
Ya, dia sejenis perasaan dimana
kita bukan yang paling top, meski barangkali kita sudah duduk di tempat yang
top.
Maksudnya
?
Bisa saja seorang duduk dikursi
Presiden misalnya, Gubernur misalnya, pokoknya sudah paling top. Lalu dia tetap
menunjukkan kerendahan hati, itu rendah hati namanya. Sebaliknya, jika
seseorang duduk pada tempat yang tinggi, seperti pada jabatan-jabatan itu,
namun ia arogan, maka orang tersebut berubah menjadi tirani, berubah menjadi
dictator, bahkan fasis.
Seseorang yang duduk
dikedudukan tinggi tetapi rendah hati maka dia berubah menjadi pelayan, orang
tersebut menyenangkan kita. Jadi sekali lagi, seorang yang rendah hati tidak
merasa sudah paling tinggi meskipun barangkali dia sudah ditempat paling
tinggi. Dengan kata lain, kerendahan hati adalah tidak menuntut apa yang tidak
patut bagi kita sesuai dengan kedudukan kita. Mendahulukan orang lain dengan
menolak mendahulukan apa yang patut bagi kita sesuai dengan kedudukan kita, itu
kerendahan hati. Kerendahan hati adalah sebuah syarat dimana kita bisa belajar
lebih lanjut. Ketinggian hati adalah sebuah kondisi dimana kita tidak belajar
lagi karena sudah merasa paling top, paling pinter, paling luar biasa.
Penjelasan
Anda mengingatkan saya akan nasehat Sufi Besar, Imam Ibnu ‘Atha’illah, yang
mengatakan, “Tanamkanlah ujudmu dalam bumi yang sunyi sepi, karena sesuatu yang
tumbuh dari benda yang belum ditanam, tidak sempurna hasilnya.” Pertanyaannya,
bagaimana memupuk rasa rendah hati dalam diri kita ?
O, ya ? Beberapa hal yang bisa
kita lakukan untuk memupuk kerendahan hati diantaranya adalah dengan menyadari
kembali bahwa seluruh yang kita punyai adalah anugerah-Nya, berkah-Nya atau
rahmat-Nya. Karenanya katakan pada diri sendiri, “Aku masih ingin belajar”,
“Aku masih ingin mendapatkan input dari sekelilingku”, “Aku masih ingin
mendapatkan pengetahuan-pengetahuan dari mana saja agar dapat lebih baik”.
Jika
ditilik dari kehidupan kita, umat Islam, nampaknya metode memupuk kerendahan
hati yang Anda sampaikan masih menjadi problem besar tersendiri ya ?
Persis seperti yang saya
perhatikan selama ini. Saudara-saudara kita sesama muslim masih terlalu asyik
dengan dunianya sendiri dan bergaul hanya pada lingkungannya sendiri. Malah
yang lebih memprihatikan, dengan sesama muslim kalau ngundang pembicara dia
tanya dulu, “Orang itu madzhabnya apa?.” Dia tidak akan menerima orang yang
tidak satu madzhab, satu aliran, dengannya. Padahal dinegara-negara maju sudah
menjadi pemandangan yang biasa orang-orang Yahudi mengundang pembicara Islam,
Hindu atau Kristiani, atau sebaliknya.
Mereka sudah mantap dengan iman
mereka sehingga mereka tidak khawatir dengan pembicara yang datang dari luar
komunitas mereka. Mereka sangat yakin, bahwa dengan cara demikian (menghadirkan
pembicara “orang luar”), mereka dapat memperkaya wacana dan kehangatan batin.
Kita, atau persisnya sebagian
umat Islam, lupa bahwa salah satu cara mensyukuri perbedaan ditunjukkan bukan
pada lisan akan tetapi dengan mendengarkan pendapat orang lain yang beda
keyakinan agamanya.
Anda
punya pengalaman keberislaman Anda?
Iya. Pernah beberapa peserta
saya mengklaim materi yang baru saja selesai saya sampaikan menurut sudut
pandang keyakinan agama mereka. Seorang peserta yang beragama Kristiani
mengatakan bahwa materi saya ada juga di ajarkan dalam Injil. Peserta lain yang
beragama Islam mengaku bahwa materi yang saya sampaikan ada di Al-Quran surat
al-Maidah. Peserta yang Budha menganggap bahwa materi saya itu penerapan dari
Dharma-dharma Budha. Saya hanya mengembalikan semua apresiasi itu kepada-Nya.
Pengalaman
lain ?
Masih banyak orang yang salah
faham terhadap Islam. Ada satu pengalaman yang mengherankan sekaligus membuat
saya prihatin. Dalam satu seminar di acara coffee break isteri saya didatangi
salah seorang peserta penganut agama Kristen yang taat. Masih kepada isteri
saya, orang itu memberi komentar bahwa saya menerapkan ajaran Injil dengan
baik. Lalu dengan lembut, penuh kehati-hatian, isteri saya memberitahu bahwa
saya seorang muslim. Sontak orang itu terperanjat saat mengetahui bahwa saya
seorang muslim. Yang membuat isteri saya (dan kemudian juga saya) prihatin
adalah ucapannya, “Loch, kok ada ya orang Islam yang baik macam Pak Mario!?”
Jika sebagaian dari kita umat
Muslim bisa menyampaikan dakwah sperti Mario Teguh, sudah tentu stigma negatif
tentang Islam akan berkurang, Mau?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar